Adab Jual-beli di Kalimantan

Bismillah,

"Telur sebuting berapa cil?" 
(telur sebiji berapa tante?)

Tanyaku di pasar kepada penjual telur.

"Ada yang 1500, 1600,1700,1800, mun telur itik nya ada yang 2400, 2500 dan 2600, hendak yang mana?" jawab si penjual sambil menunjuk telur dengan klasifikasi harga yang berbeda-beda sesuai dengan ukuran besar-kecilnya.

"Yang ini 6 buting" tunjukku kepada tumpukan telur ayam harga 1600.

Setelah dimasukkan ke dalam kantong plastik putih aku membayar dengan selembar uang 10 ribuan.

Si penjual kemudian memberikan royco 1 bungkus sebagai sisa kembalian.

"Angsulnya royco lah" (kembaliannya royco ya) ujarnya sambil memasukkan sebungkus royco rasa ayam ke dalam plastik berisi telur tadi.

"Jual seadanya ulun" (ulun:saya, aku)

"Inggih tukar cil ai" jawabku untuk membalas akad jual-beli ku.

Itulah sepenggal cerita tentang adab jual beli di Kalimantan. 
Khususnya Kalimantan Selatan di mana aku tinggal 😊

Mengapa jual-beli di Kalimantan menggunakan adab segala?

Aku aja baru tau hal ini setelah tinggal dan menetap di sini, sebelumnya ga tau sama sekali 😄

Konon katanya, Kalimantan Selatan termasuk salah satu daerah dengan tingkat "religius" yang tinggi di Indonesia.

Terbukti dari banyaknya ulama atau orang di sini memanggilnya "Abah Guru", yaitu pemuka agama yang sangat dihormati. Ajarannya sangat dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kalimantan Selatan.
Bahkan Foto Sang Abah Guru pun hampir ada di setiap rumah warga masyarakat Kalimantan Selatan. 

Begitu menghargainya orang Kalsel kepada ulama yang berilmu.

Pun dalam keseharian, kejujuran sangat dijunjung tinggi para pedagang.

Suatu pelajaran berharga yang menurutku harus tetap dilestarikan dan dipertahankan.

Karena jujur itu ilmu yang mahal.

By the way...
Awalnya aku merasa aneh dan tidak biasa ketika jual-beli harus pakai adab seperti di atas
Kebiasaan kalau jual-beli bayar, ambil barang kemudian ngeloyor pergi sambil bilang "makasih"

Tapi di sini berbeda, aku diajari oleh tradisi dan kebiasaan untuk "bersikap" lebih baik sesuai adab Keislaman dalam bermuamalah di pasar, khususnya jual-beli.

Lama-kelamaan semuanya berjalan menjadi suatu kebiasaan ketika aku berusaha untuk mengikutinya seperti masyakarat di sini.

Tidak sulit ternyata untuk melebur menjadi bagian dari mereka 😀

Cukup menyenangkan dan suatu hal baru yang berbeda tentunya dengan pengalamanku selama 25 tahun hidup di tanah Jawa 😂

Mungkin ini hanyalah sebuah hal kecil untum sebagian orang dan bukanlah "suatu topik yang bisa diangkat menjadi sebuah pembicraan menarik" 

Tapi bagiku, hal sekecil apapun yang aku temui dan belum pernah aku alami itu adalah sebuah pengalaman, suatu ilmu baru, dan perlu sebuah pemahaman untuk belajar, berusaha menghargai perbedaan di tempat orang, kebiasaan di daerah lain, menghormati adat dan tradisi dimana kita tinggal, supaya kita bisa diterima di mana kita berada.

Begitulah kira-kira 😄

Saturday,
Kotabaru
17 Oktober 2020







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit ceritaku di Kotabaru

Dua Garis (positive) Tespekku.

APA ITU KANKER???