KETIKA AKU DIVONIS KANKER
Kehidupan penuh dengan misteri.
Terkadang beberapa hal terjadi di luar kuasa kita. Pun demikian dengan nasibku. Tiba-tiba dokter memvonisku dengan penyakit Kanker. Kanker payudara stadium 2b.
Dunia terasa runtuh seketika.
Semesta terasa begitu mempermainkanku.
Di saat sendirian berjuang di tanah orang tiba-tiba aku harus menghadapi kenyataan pahit yaitu sakit kanker.
Ketakutan menyelimutiku. Aku takut mati dalam waktu dekat. Aku takut meninggalkan anakku yang masih balita. Aku takut banyak hal termasuk amal yang belum banyak, masih banyak dosa. Dan masih punya hutang.
Tapi apa kau pikir takdir itu akan memilihmu siap atau tidak?
Tentu saja dia tidak peduli.
Siap atau tidak, suka atau tidak kalau memang jalanmu harus seperti itu apa yang bisa kau lakukan?
Seketika aku menghela napas, berpikir kenapa harus aku??? kenapa??? kenapa harus sakit kanker???
apa penyebabnya? apakah pola hidupku tidak sehat? kurang olahraga? stress? atau faktor keturunan?
Dan saat itu aku mencoba mencubit tanganku serta memejamkan mata berharap tiba-tiba aku terbangun dari tidurku dan semua ini hanyalah mimpi seperti biasanya.
Tapi ternyata itu realita.
Aku kemudian menangis di depan dokter Amin, dokter onkologi yang memeriksaku.
Saat itu aku belum bisa menerima kondisiku dengan sel-sel abnormal yang ada di tubuhku.
Ikhlas?
Menerima?
Siapa orang yang siap sakit kanker?
Sebuah penyakit mematikan dan pengobatannya lama dan butuh effort yang luarbiasa.
Ya Allah ini ujian kah hukuman??
Tanyaku dalam hati.
Dengan kaki lemas aku keluar dari ruangan dokter Amin, dipapah oleh perawat yang mensupportku untuk semangat dan menerima kenyataan ini.
Bahkan di saat divonis kanker ini pun aku harus sendirian mendengar penjelasan dari dokter karena jauh dari suami dan keluarga.
Butuh waktu untuk aku menerima.
Butuh waktu untuk aku ikhlas.
Butuh waktu untuk aku menjalani pengobatan ini.
Akan kuceritakan beratnya perjuanganku melawan sel carcinoma ini.
Komentar
Posting Komentar